RSS

DESA WANA, DESA TRADISIONAL DI LAMPUNG TIMUR

05 Mar

desa-wanaRumah Adat Lampung Melinting di Desa Wana, Lampung Timur (pariwisata lampungcom)

Desa Wana merupakan satu desa tradisional yang terletak di Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur.  Desa Wana merupakan satu dari tujuh (7) desa inti masyarakat Lampung Melinting, sekaligus merupakan salah satu dari enam (6) Desa Pewaris Kebudayaan Asli Keratuan Melinting. Hampir separuh dari rumah penduduk di Desa Wana masih menggunakan arsitektur tradisional rumah adat Lampung, yakni rumah panggung dengan bahan kayu.  Berjarak sekitar 70 km dari Kota Bandar Lampung, Desa Wana yang merupakan Desa Tradisional di Lampung Timur ini dapat dicapai dalam tempo 3 jam perjalanan jika melalui jalur Panjang – Sribhawono.

PROFIL DESA WANA

desa-wana-kecamatan-melinting-lampung-timur

Sebagian masyarakat Desa Wana ini juga masih menggunakan beberapa alat tradisional untuk kehidupan sehari-hari, diantaranya adalah mereka  masih memasak menggunakan tungku kayu.  Desa Wana memiliki luas wilayah sebesar 1.021 ha, dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 jiwa dari sekitar  2.400 Kepala Keluarga, dengan mayoritas profesi penduduknya adalah Petani dan Buruh Tani.  Komposisi penduduk berjenis kelamin laki-laki dan perempuan di Desa Wana hampir berimbang.  Uniknya meskipun merupakan Desa Adat Lampung, sekitar separuh penduduk Desa Wana berasal dari suku lain, seperti Suku Jawa, Padang, Bali, dan Batak.

UPAYA MELESTARIKAN ADAT LAMPUNG DI DESA WANA

desa-wana-lampung-timur

Selain mempertahankan arsitektur rumah adat Lampung yang dikenal dengan sebutan Nuwo Panggung, masyarakat Desa Wana masih melakukan beberapa upacara adat khas Lampung Timur, diantaranya Upacara Pernikahan, dan Pertemuan Adat.  Dalam Upacara Pernikahan, Tari Melinting yang dilakukan oleh para penari selalu ditampilkan.

TARI MELINTING

tari-melinting

Tari Melinting merupakan tarian menyambut tamu, tarian adat Lampung Timur yang sudah terkenal, bahkan hingga ke mancanegara. Tari Melinting biasanya digelar dengan iringan alat musik tradisional seperti gamelan.  Demikian sekilas gambaran tentang upaya melestarikan adat Lampung di Desa Wana.

Jpeg

Sejarah tari melinting konon berawal pada abad ke-16, yaitu pada masa silsilah kedua Keratuan Melinting Pangeran Panembahan Mas. Pada masa itu pengaruh Islam mulai mendominasi tata cara tarian, termasuk mempengaruhi tari melinting. Tarian ini terdapat di daerah Kecamatan Labuhan Maringgai, Desa Meringgai dan Wana, yang masuk wilayah Kabupaten Lampung Timur.

Fungsi tari melinting sudah banyak berubah, tidak seperti pertama kali diciptakan oleh Ratu Melinting. Ia memaparkan, tari melinting sebelum mengalami perkembangan penyempurnaan adalah mutlak sebagai tarian keluarga Ratu Melinting yang dipergelarkan hanya pada saat acara gawi adat Keagungan Keratuan Melinting. Para penarinya hanya terbatas dimainkan putera dan puteri Ratu Melinting sendiri. Pagelarannya dilakukan di Sesat atau Balai Adat.

tari-melinting-menyambut-tamu-desa-wana-lampung-timur

Tari melinting yang dikembangkan kembali sejak 1958, tidak lagi merujuk sepenuhnya pada bentuk aslinya, baik gerak, busana, dan aksesoris. Telah terjadi modifikasi di sana-sini. Dari segi fungsi pun, persembahan tari melinting telah bergeser dari peragaan sakral menjadi tarian hiburan lepas atau paling tidak menjadi persembahan pada tamu agung yang berkunjung ke Lampung.

Sejak mengalami pergeseran fungsi, busana tari yang dipakai pun berubah agak jauh dari bentuk dan warna aslinya. Dulu penari melinting putra memakai kopiah emas melinting, baju dan jung sarat yang diselempangkan, baju teluk belanga, kain tuppal disarungkan, kipas warna merah, bulu seretei, sesapur handak putih, bunga pandan, dan celana panjang putih. Sekarang, penari putra memakai kopiah emas pepadun, baju teluk belanga, kain tapis, kipas warna bebas, dan bulu seretei. Untuk busana dan aksesoris penari putri, tari melinting lama menggunakan siger melinting cadar warna merah/putih, kebaya putih tanpa lengan, tapis melinting, rambut cemara panjang, kipas warna putih, gelang ruwi dan gelang kano. Sekarang pakaian dan aksesori itu diganti dengan siger melinting cakar kuningan, kebaya putih lengan panjang, tapis pepadun, rambut disanggul, kipas warna bebas, gelang rawi dan buah jukum.

Gerakan yang dipakai dalam tari melinting dibedakan antara gerakan penari putera dan gerakan penari puteri. Gerakan penari putera meliputi babar kipas, jung sumbah, sukkung sekapan, balik palau, kenui melayang, nyiduk, salaman, suali, niti batang, lutcat kijang, dan lapah ayun. Sedangkan gerakan untuk penari puteri terdiri dari gerakan babar kipas, jung sumbah, sukung sekapan, timbangan atau terpipih mabel, melayang, ngiyan bias, nginjak lado, nginjak tahi manuk dan lapah ayun. (Sumber : Budaya Kesenian Lampung TMII).

KERATUAN MELINTING

Setelah runtuhnnya kerajaan Majapahit sekitar awal abad ke 15, timbulah kerajaan Islam di Pulau Jawa.  Salah satu di antara Walisongo yaitu  Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasil menaklukan Jawa Barat termasuk daerah Banten, dan kemudian Banten diserahkan kepada anaknnya yang tua Maulana Hasanuddin yang bergelar Pangeran Sabakingking. Pada suatu ketika, Sultan Maulana Hasanuddin mengirim utusan ke Lampung untuk berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam. Adapun yang diutus Sultan Banten itu adalah dua juru dahwah yaitu Ratu Saksi alias Darah Putih dan Ratu Simaringgai yang kemudian bergelar Ratu Melinting.

Penyebaran Agama Islam di Lampung antara lain melalui Labuhan Maringgai sekarang, yang berada di bawah kekuasaan Ratu Pugung,  mereka mengajarkan agama Islam terhadap Ratu Pungung dan rakyat Keratuan Pugung hingga berbulan-bulan lamanya. Ratu Pugung mempunyai cucu dua orang gadis yaitu yang bergelar Putri Sinar Alam, anak dari Singindor Alam merupakan anak tertua Ratu Pugung. Satunya lagi bergelar Putri Sinar Kaca, anak dari Gayung Garunggung yang merupakan anak Ratu Pugung yang lebih muda.

Putri Sinar Alam kawin dengan Ratu Saksi (Darah Putih) dan mempunyai anak lelaki bernama Minak Kejala Ratu. Putri Sinar Kaca kawin dengan Ratu Simaringgai yang juga mempunyai anak lelaki bernama Minak Kejala Bidin. Sebelum Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin lahir, sewaktu mereka masih di dalam kandungan, ayah mereka yang kembali ke Cirebon tidak kembali ke Lampung. Setelah Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin tumbuh menjadi pemuda, suatu ketika mereka berdua bertanya kepada ibu mereka, siapa dan dimana gerangan ayah mereka berdua berada. Akhirnya Putri Sinar Kaca menjelaskan tentang bapak mereka berdua, dan Minak Kejala Ratu serta Minak Kejala Bidin kemudian menyeberang ke Banten dengan menaiki perahu mencari ayah mereka. Minak Kepala Bidin menghadap Sultan Maulana Yusuf anak Sultan Maulana Hasanuddin.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 1575 Masehi. Setelah Minak Kejala Ratu Minak Kejala Bidin menghadap Sultan Maulana Yusuf di Pusiban Agung, Sultan Maulana Yusuf meminta tanda bukti dari mereka berdua, kalau benar mereka berdua anak pamannya yang bergelar Ratu Saksi dan Ratu Simaringgai. Minak Kejala Ratu dan Minak kejala Bidin memperlihatkan cincin yang dipakai mereka kepada Sultan Banten. Cincin itu adalah emas kawin ibu mereka berdua yang di bawa bapak mereka dari Banten sewaktu ditugaskan Sultan Maulana Hasanuddin menyebarkan agama Islam di Lampung. Setelah Sultan Maulana Yusuf memeriksa cincin yang diperlihatkan mereka berdua berdua, Maulana Yusuf menegaskan bahwa mereka benar anak pamannya dan itu berarti adiknya juga.

Maulana Yusuf juga menegaskan bahwa mereka tidak perlu menunggu ayahnnya, ayah mereka sedang bertugas jauh untuk berdakwah dan sulit mencari mereka. Sultan meminta mereka untuk istirahat di Surosowan, istana Sultan Banten. Kurang lebih seminggu kemudian, Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin diterima di Pusiban Agung. Sultan Maulana Yusuf memerintahkan mereka berdua agar kembali ke Lampung dan berpesan agar wilayah kekuasaan Ratu Pugung dibagi menjadi dua bagian: Wilayah Labuhan Meringgai diperintah Kejala Bidin atau disebut Keratuan Merinding, dan Wilayah Kuripan Kalianda dipimpin Kejala Ratu yang disebut Keraturan Merinding atau Ratu Berdarah Putih.

RUMAH ADAT LAMPUNG MELINTING

rumah-penduduk-desa-wana-lampung-timurarsitektur-rumah-adat-desa-wana-lampung-timur

Rumah adat Lampung Melinting memiliki ornamen ukiran khas Lampung.  Konon arsitektur rumah adat tradisional Lampung Melinting di Desa Wana ini dipengaruhi oleh arsitektur Kayuagung, Sumatera Selatan.  Rumah penduduk berjajar di satu ruas jalan, konon sesuai kesepakatan mengenai tata ruang desa.  Di belakang rumah-rumah penduduk biasanya sudah berupa ladang atau kebun warga.

Ada sekitar 100 rumah panggung yang yang masih dijaga keasliannya sejak dulu di Desa Wana,” ujar Iskandar, Kaur Pemerintahan di Desa Wana.

WISATA TRADISIONAL DI DESA WANA

POTENSI WISATA DESA WANA

Desa Wana yang masih cukup menjaga sisi ketradisionalannya sebenarnya menyimpan Potensi Wisata cukup besar, khususnya Wisata Budaya berupa Arsitektur Rumah Adat, Tari Melinting, Kuliner khas Lampung Melinting, termasuk untuk Wisata Agro, khususnya Buah Durian, Duku dan Manggis.

Potensi wisata Desa Wana telah dilihat Pemerintah Kabupatan Lampung Timur sejak lama, bahkan sudah digadang sebagai desa wisata sejak tahun 1994.  Pada tahun itu Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan Desa Tradisional Wana sebagai salah satu obyek pariwisata budaya. Ungkapan Indonesia “pariwisata budaya” atau sering diringkas menjadi “wisata budaya”.

TANTANGAN SEKTOR PARIWISATA DESA WANA

Sangat disayangkan, potensi besar dari daerah yang menyimpan sejarah ini terbengkalai tanpa pengelolaan yang baik, sehingga perkembangannya pun jalan di tempat.  Kondisi ini dibenarkan oleh Iskandar, Kaur Pemerintahan di Desa Wana yang dipercaya unuk mengelola wisata budaya desanya.

Segala sarana prasarana yang ada di Wana ini semua atas inisiatif swadaya dari masyarakat setempat. Hingga saat ini kontribusi pemerintah daerah untuk wisata Desa Wana hanya sebatas penyuluhan saja”. Kata Iskandar

Pemerintah hadir baru sebatas penyuluhan, tanpa adanya pendampingan serius. Sarana prasarana selamaini dikumpulkan secara swadaya masyarakat, misalnya: alat musik Talo  dan baju adat tari melinting. Pengelolaan wisata yang kurang serius tersebut berdampak kontra-produktif, diantaranya telah ada beberapa rumah dirobohkan karena minimnya perawatan.

UPAYA MENJAWAB TANTANGAN SEKTOR PARIWISATA DESA WANA

Tantangan sektor Pariwisata sebenarnya bukan tanggungjawab Pemerintah Daerah semata, yang ketersediaan sumber dana nya juga terbatas.  Upaya yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan itu adalah dengan membangun infrastruktur yang paling mendesak seperti akses jalan, menyiapkan keterlibatan masyarakat menjadi unsur vital yang perlu dioptimalkan.  Koordinasi dan pengintegrasian setiap elemen yang dapat mendukung kemajuan wisata juga mendesak dilakukan, dan untuk hal ini Pemerintah Daerah memang harus tampil didepan, sebagai Administratornya.

Metode ini sudah berhasil dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang mampu menggenjot kunjungan wisatawan hingga 400% dalam beberapa tahun terakhir.

Sedangkan bagi masyarakat, khususnya pecinta traveling, dukungannya sangat diharapkan untuk memajukan pariwisata suatu daerah. 

Oleh sebab itu Sahabat Traveller, kalau sedang traveling ke Lampung Timur, selain ke Way Kambas ada baiknya kita berkunjung ke Desa Tradisional Wana, dan melihat langsung Warisan budaya Lampung yang tersisa dan coba dilestarikan masyarakat setempat, sebagai penghargaan terhadap upaya masyarakat Desa Wana, sekaligus sebagai wujud nyata keterlibatan kita dalam memajukan pariwisata lampung.

Demikian artikel DESA WANA, DESA TRADISIONAL DI LAMPUNG TIMUR, semoga bermanfaat.

Bantu Like & Share ya Guys 🙂

 

Kembali ke : Tempat Wisata di Lampung

Sumber :

– Pariwisata Lampung . com

– Ayo ke Lamtim . com

– Lampung Timur Story Blog Spot . co . id

– Keliling Lampung WordPress . com

– Ulun Lampung Blogspot . co . id

– oto detik . com

– Taman Mini . com

– Ismu – Nagaritohlangpohwang blogspot . com

Save

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Maret 2017 in WISATA LAMPUNG

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: